Berdasarkan riset, kebanyakan anak kecil kalo ditanya ”Kalo udah gede mo jadi apa?” akan ngejawab ”Jadi dokter.” Nggak tau kenapa profesi ini kayak punya daya tarik tersendiri buat anak kecil. Sama kayak aku dulu, kalo ditanya soal cita-cita aku bakalan jawab ”Jadi dokter Nuyul.”
Nuyul. Bahasa baku = menuyul → me + tuyul → berlaku seperti tuyul.
BUKAN!
Saat balita, aku nggak bisa ngucapin ‘R’, jadilah huruf itu bertransformasi (ciailah) jadi ‘Y’. Dokter Nurul a.k.a. Nuyul itu adalah dokter langganan keluarga aku. Dan, waktu itu aku ngira kalo Nuyul itu spesialisasi dari profesi dokter , kayak dokter kandungan, dokter hewan, dll. Jadi, mungkin saat itu aku udah niat untuk ganti nama jadi Nuyul.
Sekarang sih aku skeptis bisa jadi dokter. Modalnya gede. Lagian kan nggak mungkin seorang dokter jiwanya sesakit aku ini.
Nah, ini dia beberapa cita-cita yang sempet mampir di pikiranku.
1. Penulis
Ide untuk menekuni bidang sastra muncul sejak aku kelas 2 SD. Guruku waktu itu secara tidak langsung menerangkan kehidupan penulis yang bisa makan dengan menuangkan ide-ide dalam beberapa helai kertas (bahasaku keren). Selain itu aku juga cukup andal kalo disuruh ngarang, terutama ngarang cerita buat ngeles.
Di SMA aku ketemu seorang guru Bahasa Indonesia yang gokil abis yang asiknya lagi merupakan wali kelasku, Bu Puji. Beliau bisa dibilang udah malang-melintang di bidang sastra. Dapet juara dimana-mana untuk lomba nulis-nulis gitu deh. Beliau mengingatkan kalo jaman sejarah dimulai ketika manusia menemukan tulisan. Makanya kalo kita nggak mau nulis kita masih hidup di jaman prasejarah alias primitif alias purba. Nah, aku udah nulis loh! Meskipun masih amatiran. Hahaha.
2. Pemain Basket
Cita-cita ini muncul ketika kakakku ikut ekskul basket. Keren aja gitu ngeliat anak-anak tinggi loncat-loncat dengan gaya yang cool abis. Waktu itu tiap pagi aku dribel-dribel bola sendiri di depan rumah. Kebetulan aku sekolahnya masuk siang. Terus waktu kelas 3 SD terjadilah kecelakaan yang tidak diinginkan waktu aku iseng-iseng nyoba freestyle gitu. Yaaahh... akhirnya mengakibatkan kelainan pada tangan kiriku.
3. Menteri Pendidikan
Mulia banget deh cita-citaku waktu itu. Rasanya tuh pengen memajukan pendidikan di negara kita. Keren nggak sih? Menteri Pendidikan RI tahun 2029 Prihatsiwi Hayuningsih. Wow. Aku menteri! Aku menteri! *jingkrak-jingkrak* Tapi nggak ada ya menteri dengan level kegilaan setinggi ini? Mau jadi apa negara kita? Jangan-jangan kalo aku jadi menteri pendidikan kurikulum sekolah bukannya berbasis tingkat satuan pendidikan tapi jadi berbasis weton dan primbon anak didik.
4. Kerja di redaksi majalah
Nah, yang ini kan bisa sekalian menyalurkan hobi. Kayaknya seru deh nulis-nulis artikel di majalah. Tapi bukan majalah fauna ato majalah vulgar gitu, maksudnya majalah remaja gitu. Huahaahaa. Asik deh kayaknya.
5. Puteri Indonesia
Beauty, brain, behaviour. Cantik, pinter, anggun. Coba kalian bayangkan seorang Prihatsiwi Hayuningsih memiliki tiga hal tersebut. Beberapa dari kalian mungkin akan langsung pergi ke apotek beli obat ayan (ada ya?) dan sebagian lainnya pergi ke tebing terdekat untuk mengakhiri hidup secepat mungkin sebelum makhluk yang lebih aneh datang menginvasi bumi dan membuat hidup kalian lebih jungkir-balik.
6. Pembawa acara berita di Metro TV
Metro TV adalah stasiun TV yang isinya beritaaaa mulu. Ya nggak juga sih. Ada hiburannya juga kok. Tapi tetep aja kalo nonton Metro isinya kudu mikir gitu.
Presenter berita (kalo buat berita tuh apaan sih istilahnya? Current affair ya? Apaan sih?) di mtero tuh keren banget. Cerdas, menarik, percaya diri... semacam kaum elit terpelajar giu deh. Yang jadi favorit aku adalah Ralph Tampubolon. Figur suami idaman aku di masa yang akan datang. Huaaaahaahaaaa *ngakak iblis*
Dia tuh yang suaranya dalem-keren gitu, inggrisnya lancar (eyaeyalah), terus mukanya untuk standar bapak-bapak bisa dibilang ganteng *astoperloh*.
7. Vakum
Bukan vakum kliner! Maksudku gini, ada saat-saat dimana kita nggak tau kita tuh apa, kenapa, gimana, dan lainnya. Terus kita mempertimbangkan apakah kita pantes untuk diri kita sendiri maupun orang-orang di sekitar kita. Dan apa harus kita melanjutkan mimpi yang kita tau kalo itu nggak seperti yang diharapkan orang-orang di sekitar kita. Terus kita berada di tengah-tengah. Vakum. Nggak tau harus menjadi seperti apa.
JUPATER 2013! SEMESTER 5
13 tahun yang lalu
