Keblinger

Keblinger

Cita-cita

0
| Rabu, 16 Maret 2011
Berdasarkan riset, kebanyakan anak kecil kalo ditanya ”Kalo udah gede mo jadi apa?” akan ngejawab ”Jadi dokter.” Nggak tau kenapa profesi ini kayak punya daya tarik tersendiri buat anak kecil. Sama kayak aku dulu, kalo ditanya soal cita-cita aku bakalan jawab ”Jadi dokter Nuyul.”
Nuyul. Bahasa baku = menuyul → me + tuyul → berlaku seperti tuyul.
BUKAN!
Saat balita, aku nggak bisa ngucapin ‘R’, jadilah huruf itu bertransformasi (ciailah) jadi ‘Y’. Dokter Nurul a.k.a. Nuyul itu adalah dokter langganan keluarga aku. Dan, waktu itu aku ngira kalo Nuyul itu spesialisasi dari profesi dokter , kayak dokter kandungan, dokter hewan, dll. Jadi, mungkin saat itu aku udah niat untuk ganti nama jadi Nuyul.
Sekarang sih aku skeptis bisa jadi dokter. Modalnya gede. Lagian kan nggak mungkin seorang dokter jiwanya sesakit aku ini.
Nah, ini dia beberapa cita-cita yang sempet mampir di pikiranku.
1. Penulis
Ide untuk menekuni bidang sastra muncul sejak aku kelas 2 SD. Guruku waktu itu secara tidak langsung menerangkan kehidupan penulis yang bisa makan dengan menuangkan ide-ide dalam beberapa helai kertas (bahasaku keren). Selain itu aku juga cukup andal kalo disuruh ngarang, terutama ngarang cerita buat ngeles.
Di SMA aku ketemu seorang guru Bahasa Indonesia yang gokil abis yang asiknya lagi merupakan wali kelasku, Bu Puji. Beliau bisa dibilang udah malang-melintang di bidang sastra. Dapet juara dimana-mana untuk lomba nulis-nulis gitu deh. Beliau mengingatkan kalo jaman sejarah dimulai ketika manusia menemukan tulisan. Makanya kalo kita nggak mau nulis kita masih hidup di jaman prasejarah alias primitif alias purba. Nah, aku udah nulis loh! Meskipun masih amatiran. Hahaha.
2. Pemain Basket
Cita-cita ini muncul ketika kakakku ikut ekskul basket. Keren aja gitu ngeliat anak-anak tinggi loncat-loncat dengan gaya yang cool abis. Waktu itu tiap pagi aku dribel-dribel bola sendiri di depan rumah. Kebetulan aku sekolahnya masuk siang. Terus waktu kelas 3 SD terjadilah kecelakaan yang tidak diinginkan waktu aku iseng-iseng nyoba freestyle gitu. Yaaahh... akhirnya mengakibatkan kelainan pada tangan kiriku.
3. Menteri Pendidikan
Mulia banget deh cita-citaku waktu itu. Rasanya tuh pengen memajukan pendidikan di negara kita. Keren nggak sih? Menteri Pendidikan RI tahun 2029 Prihatsiwi Hayuningsih. Wow. Aku menteri! Aku menteri! *jingkrak-jingkrak* Tapi nggak ada ya menteri dengan level kegilaan setinggi ini? Mau jadi apa negara kita? Jangan-jangan kalo aku jadi menteri pendidikan kurikulum sekolah bukannya berbasis tingkat satuan pendidikan tapi jadi berbasis weton dan primbon anak didik.
4. Kerja di redaksi majalah
Nah, yang ini kan bisa sekalian menyalurkan hobi. Kayaknya seru deh nulis-nulis artikel di majalah. Tapi bukan majalah fauna ato majalah vulgar gitu, maksudnya majalah remaja gitu. Huahaahaa. Asik deh kayaknya.
5. Puteri Indonesia
Beauty, brain, behaviour. Cantik, pinter, anggun. Coba kalian bayangkan seorang Prihatsiwi Hayuningsih memiliki tiga hal tersebut. Beberapa dari kalian mungkin akan langsung pergi ke apotek beli obat ayan (ada ya?) dan sebagian lainnya pergi ke tebing terdekat untuk mengakhiri hidup secepat mungkin sebelum makhluk yang lebih aneh datang menginvasi bumi dan membuat hidup kalian lebih jungkir-balik.
6. Pembawa acara berita di Metro TV
Metro TV adalah stasiun TV yang isinya beritaaaa mulu. Ya nggak juga sih. Ada hiburannya juga kok. Tapi tetep aja kalo nonton Metro isinya kudu mikir gitu.
Presenter berita (kalo buat berita tuh apaan sih istilahnya? Current affair ya? Apaan sih?) di mtero tuh keren banget. Cerdas, menarik, percaya diri... semacam kaum elit terpelajar giu deh. Yang jadi favorit aku adalah Ralph Tampubolon. Figur suami idaman aku di masa yang akan datang. Huaaaahaahaaaa *ngakak iblis*
Dia tuh yang suaranya dalem-keren gitu, inggrisnya lancar (eyaeyalah), terus mukanya untuk standar bapak-bapak bisa dibilang ganteng *astoperloh*.
7. Vakum
Bukan vakum kliner! Maksudku gini, ada saat-saat dimana kita nggak tau kita tuh apa, kenapa, gimana, dan lainnya. Terus kita mempertimbangkan apakah kita pantes untuk diri kita sendiri maupun orang-orang di sekitar kita. Dan apa harus kita melanjutkan mimpi yang kita tau kalo itu nggak seperti yang diharapkan orang-orang di sekitar kita. Terus kita berada di tengah-tengah. Vakum. Nggak tau harus menjadi seperti apa.

Vierra, Pertemuan Singkat – Semua Tentangmu – Kepergianmu

0
|
Aku suka sama Vierra dari awal kemunculan mereka. Waktu itu aku masih kelas 8 SMP, lagunya yang Dengarkan Curhatku ngehits banget. Yah paling enggak buat aku. Keren banget deh. Kayaknya tuh lagu memberikan sensasi tersendiri. Ciailah. Apalagi Kevin tuh keren banget main pianonya. Aduuh... bikin melted deeeh... Terus suaranya Widi yang imut-imut gitu... Uuuuh suka banget deh ma Vierra.
Aku suka Perih, Seandainya, sama Tears. Bukan karena alasan situasional sih. Tapi emang lagu-lagu itu kereeeeen banget. Terutama, sekali lagi, karena Kevin keren banget main pianonya.
Nah, untuk album yang kedua, Love, Love, and Love, aku punya tiga lagi lagu yang aku suka.
Oke, kalo yang ini aku akuin kalo emang ada faktor situasional dimana lagu-lagu ini emang lagi ngepas sama nasib aku.

Pertemuan Singkat
Pertemuan singkat
Dan berjalan sangat cepat
Tidak disangka
Aku langsung terhipnotis olehmu

Setidaknya kamu sempat menjadi milikku
Meskipun tak lama hal itu
Telah membuatku bahagia

Kau buat hidupku
Tak berarti tanpa kamu
Kini kau menghilang
Dan aku terhipnotis olehmu

Setidaknya kamu sempat menjadi milikku
Meskipun tak lama hal itu
Telah membuatku bahagia

Dengan masalah besar
Yang dihadapi
Segitu saja perjuanganmu (untukku?)
Setidaknya kamu sempat menjadi milikku
Meskipun tak lama hal itu
Telah membuatku bahagia

Pertemuan singkat
Dan berjalan sangat cepat...

Lagu ini cocok deh buat soundtrack (ciailah, soundtrack) cerpen aku yang ditugasin ma Bu Puji. Judulnya Nakushita Kotoba, artinya kata-kata yang hilang. Sebenernya sih itu judul lagunya No Regret Life. Biar keren aja aku jadiin judul cerpenku. Hahahaha.
Ceritanya tentang cowok yang CP3 a.k.a. cinta pada pandangan pertama a.k.a. love at first sight sama seorang cewek yang ternyata adalah cewek bisu. Mereka ketemu di halte bis. Dan pertemuan mereka cuma sampe 3 ato 4 hari doang. Abis itu si cewek ilang entah kemana.
Ada bebeapa temen yang abis baca cerpen itu langsung nanya ke aku, ”Eh Siw, terus si Cita kemana?” aku jawab aja, ”Nggak tau. Hehe.” Biar kesannya misterius gitu. Yang bikin aja nggak tau. Yang jelas ceritanya selesai sampe di situ. Nggak ada lanjutannya kayak sinetron-sinetron. Bisa aja kan beberapa tahun berikutnya si cewek yang bernama Cita itu dan si cowok yang bernama Arya itu suatu hari ketemu terus mereka jatuh cinta lagi sementara mereka masing-masing udah punya pacar? Ato mungkin ternyata Cita mati ketabrak mobil dan secara kebetulan Arya waktu itu ada di TKP. Tapi aku bikin ceritanya udah sampe situ doang.
Sebenernya aku terinspirasi sama sebuah komik yang aku pinjem dari temen yang dia pinjem dari peminjeman buku yang entah apakah sampai saat ini buku itu udah dia kembaliin ato belum. Judulnya tuh kalo nggak salah One Week. Ceritanya tentang cewek yang jatuh cinta sama cowok dan mereka deket cuma seminggu doang. Si cowok akhirnya kecelakaan dan mati. Aku sampe nangis tau nggak baca tu komik. Ceritanya manis banget. Terkadang cerita yang manis kan bukan harus cerita yang berakhir bahagia dimana si cewek yang biasa aja tapi baik hati akhirnya bisa jadian sama cowok perfect yang digilai cewek seantero sekolah.
Tapi cerpenku beda kok dari itu komik! Cerpenku menitikberatkan pada sebuah pesan bahwa kita punya pilihan untuk mengungkapkan perasaan kita, seberapapun tidak sempurnanya kita.
Kalo One Week kan nggak ada pesan begitu. Lagian ceritanya juga beda kok.

Semua Tentangmu
Semua tentangmu
Selalu membekas di hati ini
Cerita cinta kita berdua
Akan selalu...

Semua kenangan tak mungkin bisa
(kulupakan, kuhilangkan)
Tak kan mungkin kubiarkan
Cinta kita berakhir

Ku tak rela
Ku tak ingin kau lepaskan semua
Ikatan tali cinta
Yang tlah kita buat slama ini

Semua tentangmu
Selalu membekas di hati ini
Cerita cinta kita berdua
Akan selalu...

Semua kenangan tak mungkin bisa
(kulupakan, kuhilangkan)
Tak kan mungkin kubiarkan
Cinta kita berakhir

Ku tak rela
Ku tak ingin kau lepaskan semua
Ikatan tali cinta
Yang tlah kita buat slama ini

Aku di sini slalu menanti
Ku tak kan letih menunggumu
Aku di sini (aku di sini) slalu menanti (slalu menanti)
Ku tak kan letih menunggumu

Ku tak rela
Ku tak ingin kau lepaskan semua
Ikatan tali cinta
Yang tlah kita buat slama ini

Ku tak rela
Ku tak ingin kau lepaskan semua
Ikatan tali cinta
Yang telah kita buat slama ini

Wow. Ini tu kereeen gila. Kereeen mampus. Bisa nangis bombay aku kalo denger ni lagu. Sebenernya aku agak-agak ragu buat lirik yang ”Ku tak kan letih menunggumu” yang kedua. Agak-agak kedengeran kayak ”Lupakan letih menunggumu”. Tau deh mana yang bener. Tapi sih kayaknya emang ”Ku tak kan letih”.

Kepergianmu

Kuiringi langkahmu
Sampai ke akhir jalan
Sungguh berat terasa
Menyadari semua

Di saat terakhirku
Menatap wajah itu
Terpejam kedua mata
Dan terbang selamanya

Ingin ku mengejar dirimu
Menggenggam erat tanganmu
Sungguhku tak rela

Ku tau kau tak tersenyum
Melihatku menangis
Maka sekuat tenagaku
Kurelakan saat kepergianmu

Tak kan pernah kulupakan dirimu
Tak kan sanggup kulupakan semua

Ku tau kau tak tersenyum
Melihatku menangis
Maka sekuat tenagaku
Kurelakan saat kepergianmu

Kayaknya ni lagu buat orang yang ditinggal mati ya? Tapi karena suasana lagunya kelam-kelam gimanaaa gitu, kayaknya cocok juga kok buat yang ditinggal selain ditinggal mati. Hehe. *maksa*

Kacamata

1
| Senin, 14 Maret 2011
Aku pengen pake kacamata. Emang sih, dari semua orang yang aku tanyain ”Enak nggak sih pake kacamata?” jawabannya adalah ”Enggak.” Tapi buat aku keren aja kalo pake kacamata, keliatannya kayak orang pinter *dilempar sepatu ma Bongong*
Wajar nggak sih? Beberapa temen bilang ini nggak wajar. Saat orang-orang pengen sehat, aku malah pengen sakit. Kayak iklan susu balita: ”Mama, temen-temenku sakit, kok aku enggaaakk?”
Versi Siwi: ”Ibuk, Ibuk, temen-temenku matanya mines kok aku enggaaakk?”
Keinginan konyol ini sebenernya udah muncul sejak aku kelas 3 SD. Temen-temenku banyak yang pake kacamata terus keliatan pinter-pinter gitu. Keren deh kayaknya kalo aku pake kacamata. Huahahahahahaaa *ngakak setan*.
Keinginanku ini sebenernya nggak jauh beda kayak keinginanku yang satu ini: dulu, waktu kelas 6 SD kalo nggak salah, aku pengen punya jerawat. Dan kesampean. Waktu itu aku dapet jerawat merah menggoda di idung. Sumpah, aku keren banget waktu itu. Jerawatnya tuh kayak menambah kemancungan idungku. Mulailah aku pengen memelihara jerawat. Tapi, mungkin karena Tuhan terlalu sayang sama aku, akhirnya aku jerawatan beneran. Sampe sekarang aku masih dihadapkan pada masalah ini. Jerawat kayak menjadi hal yang nggak terpisahkan dari seorang Prihatsiwi. Aku takut kalo terjadi kayak gini:
A : Eh, Prihatsiwi tu yang mana sih?
B : Itu loh, yang jerawatnya banyak banget...
Oh tidaaaakkk!
Kembali ke kacamata.
Karena respon orang-orang di rumah cenderung menganggap aku mulai nggak waras setelah mendengar keinginanku itu, maka, aku membuat statement seperti ini: ”AKU PENGEN PUNYA COWOK BERKACAMATA!” Ya, ladies dan gentlemen, statement itu aku buat waktu aku kelas 3 SD yang mana aku masih berumur tidak lebih dari 9 tahun.
Jadi, mulai saat itu aku gencar memburu cowok-cowok berkacamata. Ya nggak gitu juga sih. Cuma kalo di tipi muncul cowok cakep berkacamata gitu aku suka deh. Tapi nggak semua cowok yang berkacamata terus aku suka. Syarat dan ketentuan berlaku. Nih ya beberapa cowok berkacamata yang aku suka:
1. Wima J-Rocks.
2. Harry Potter
3. Ha Je yang di BBF
4. Cowok-cowok cakep yang laen kalo dipakein kacamata kemungkinan besar aku bakalan suka.
Sempet sih pacaran sama cowok berkacamata meskipun cuma sebentar. Hehe. Seneng deh salah satu keinginan konyolku terkabul.
Terus nih ya, aku pernah baca komik temenku yang ada cowok pake kacamatanya. Katanya tuh ada yang namanya ciuman kacamata. Jadi di bibir anget, tapi matanya dingin karena kena lensa kacamata. Bukannya pengen, tapi kan seru aja gitu. Hihihi.
CURCOL
Ngomong-ngomong soal ciuman, hari Minggu kemaren aku bangun pagi langsung nonton Harpot 7 di kamar. Udah nonton sih, cuma pengen aja nonton lagi. Nah, mungkin karena udah siang banget aku belum keluar-keluar juga dari kamar, bokap dateng nyamperin ke kamar. You know what? Bokap dateng tepat saat adegan Harry kissing ma Ginny. MAMPUS.
Bokap : CEPETAN BANGUN!!!
Sial banget nggak sih? Dari 2 jam 9 menit 8 detik waktu penayangan tu film, kenapa bokap harus dateng pada saat detik mereka kissing?!

Introducing

0
|
Hai! Nama saya Prihatsiwi Hayuningsih. Ada beberapa alternatif bagi kalian untuk manggil aku:
1. Siwi. Ini panggilan resmi.
2. Siwur. Ini plesetan. Artinya gayung. Itu lho, yang buat mandi.
3. Iwizt. Ini panggilan jaman SMP. Seneng deh kalo ada yang manggil gitu. Lucu aja.
4. Jerapah. Di sebuah perkumpulan yang bertajuk (ciailah, bertajuk) Cepenplencip, aku dipanggil Jerapah karena aku tinggi dan berleher panjang. Tapi maaf, tubuh saya tidak berbercak-bercak coklat.
5. Shiyu. Suci, yang aku panggil Such manggil aku begitu. Kalo ketemu kita manggil-memanggil gini:
Aku : Hai Suuuuuchhh!
Suci : Hai Shiiiyyuuuuu! Shiyuuuu!
Aku : Suuuuuch!
Suci : Shiiiyuuuu!
Aku : Suuuuuch!
Suci : Shiyuuuu!
Aku : Suuuuuch!
Suci : Uda ah. Capek.
Aku : Sama. Da Such.
Suci : Da Shiyu.
6. Ciwi. Beberapa manggil gitu.
7. Cuik. Kedengaran kurang ajar. Tapi ini panggilan sayang dari sahabatku tercinta, Meti Kurniawati.
8. Cici. Jojo panggil aku Cici.
9. Chidiw. Pridiw panggil aku Chidiw.
10. Siwul. *answer* Hai Furkin -__-
11. Prihastiwi. Semenjak 12 tahun yang lalu aku makan bangku sekolah, udah berapa guru coba yang salah manggil aku Prihastiwi, bukan Prihatsiwi?
Tapi, dari sekian banyak panggilan aku, ada aja orang di jalan yang kalo liat aku langsung nyeletuk, ”Dian Sastro!” Aduh, plis deh, meskipun emang mirip banget, tapi plis, jangan terlalu jujur. Aku nggak pengen orang yang jalan bareng aku jadi minder. *disorakin hip-hip-HUU*
Semua kembali pada kalian untuk manggil aku dengan panggilan yang mana.
Nah, aku sekarang kelas X di SMA Negeri 1 Muntilan. Tepatnya di kelas X-8, kelas yang sebagian besar dihuni oleh makhluk-makhluk berprocessor Core 2 Duo atau yang lebih canggih. Tapi aku, adalah layaknya laron yang kesasar di sarang lebah. Mungkin database siswa-siswi baru di sekolah kena virus waktu pembagian kelas sampe-sampe aku bisa dimasukin ke X-8.
Tapi ya nggak papalah. Lumayan kan kalo gini:
Anak kelas lain : Eh, Prihatsiwi ya?
Aku : Iya.
Anak kelas lain : Kamu kelas sepuluh apa?
Aku : *benerin dasi* Sepuluh delapan.
Anak kelas lain : Wah, kamu pinter dong!
Aku : Ah, nggak juga *senyum sok-rendah-hati-padahal-mengakui*
Padahal, si anak kelas lain itu nggak tau kalo yang sebenernya terjadi pada salah satu jam Matematika adalah seperti ini:
(dialog ini sudah di-translate dari Bahasa Jawa)
Bu Guru : (ngejelasin aturan sin-cos-tan-cot)
Aku : (dengan santai ngejahit boneka buat tugas Pramuka)
Salah seorang murid : Terus buat nentuin caranya begitu gimana Bu?
Bu Guru : Kalo banyak latian juga nanti bisa. Tapi kalo diterangin malah NGEJAHIT sih nggak tau ya...
Dan semua mata tertuju padaku.
Hal tersebut tentunya tidak mencerminkan perilaku seorang murid X-8.
Kalo mudeng sih nggak papa ya. Lhah aku? Tiap kali ada soal menyangkut itu sin-cos-sin-cos-an aku langsung nodong Agrita, minta diajarin.
Itulah secuil (ciailah, secuil) tentang seorang Prihatsiwi Hayuningsih.
Blog ini adalah sebuah ”pelampiasan” dari hobi nulis-nggak-jelasku. Namanya juga nggak jelas, ya nggak jelas gini deh.
Kenapa ”Paradoks”? Paradoks adalah sebuah majas yang pengen aku jadiin majas-of-my-life. Maksudnya gini, aku kan bukan seorang cewek yang punya segalanya. Kan ada ya anak yang minta apaa gitu langsung dapet. Pengen apaa gitu langsung kesampean. Nah, dengan ketiadaannya fasilitas seperti itu dalam hidup aku, aku pengen menjadi orang yang tidak hanya dipandang sebelah mata.
Jadi, walaupun aku bukan anak-yang-punya-segalanya, aku bisa kok jadi anak yang jadi sesuatu gitu. Yah, pengennya sih gitu.
Terus, kenapa posted by-nya ”Cornflake”? Cornflake adalah nama diaryku, hadiah ulang taunku 2 tahun lalu dari Nini, sahabatku. Abis wanginya kayak Cornflake sih. Kan blog ini bisa dibilang kayak diary juga, tapi sengaja dibuat publikatif.
Oke. Cukup sekian ocehan-membuka-aib dari aku. Terimakasih.

play games? I have one for ya

 

Copyright © 2010 PARADOKS Blogger Template by Dzignine